
Hi guys!! kalian perlu tahu ini bahwa, Pengembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat telah menyentuh wilayah pendidikan Indonesia selama kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Peningkatan jumlah pengguna media sosial dan internet juga turut memberi sumbangsih dan nilai positif dalam upaya pengembangan kualitas pendidikan bangsa. Munculnya ICT dan Internet telah sangat mempengaruhi cara pengetahuan ditransmisikan. Hal ini telah mengakibatkan pengembangan e-learning. E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illionis di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruktion) dan komputer bernama PLATO. E-learning ini, banyak sekali manfaatnya. Diantaranya fleksibiltas, aksesibilitas, kenyamanan, cross platform, rendah pengiriman biaya, kemudahan update, pembelajaran kolaboratif dan skalabilitas. Tapi, meskipun banyak manfaat dari e-learnng ini. Masih banyak tantangan yang yang perlu diatasi dalam rangka meningkatkan efektivitas dari e-learning.
Oleh sebab itu, saya akan membandingkan tantangan dalam penerapan E-Learning yang dihadapi di Indonesia dan Malaysia.
- 1. Indonesia
Ada beberapa faktor yang menghambat penerapan e-learning di Indonesia. Yaitu :
1) Sumber Daya Manusia
Dalam pembelajaran berbasis e-learning factor yang paling penting adalah sisi manusianya. SDM memegang peran penting karena SDM lah yang akan menjadi subyek sekaligus objek dan pembelajaran berbasis e-learning. Siapa yang akan menjalankan model pembelajaran ini dan mau dibawa kemana model pembelajaran ini memerlukan peran aktif dari SDM.
2) Sarana dan Prasarana Pendukung E-learning
Sarana dan prasarana pendukung pembelajaran e-learning ini merupakan komponen pendukung terselenggaranya e-learning. Komponen-komponen itu meliputi koneksi/jaringan internet, computer, system, software e-learning, sekaligus termasuk sarana dan prasarana pendukung.
3) Implementasi Pembelajaran E-learning
Ada beberapa metode yang digunakan dalam penerapan e-learning, yaitu :
a. Suplemen (tambahan), yaitu tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya sebagai pilihan, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
b. Komplemen (pelengkap), yaitu sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
c. Substitusi (pengganti), yaitu memberikan beberapa alternative model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitasnya lain sehari-hari mahasiswa.
- 2. Malaysia
Tantangan yang dihadapi Malaysia adalah sebagai berikut :
1) Kesadaran
Umumnya masih ada kurangnya kesadaran di kalangan penduduk, terutama orangtua, dari efektivitas e-learning. Banyak orang tua merasa modus pembelajaran tradisional lebih baik.
2) Rendah Tingkat Adopsi
Kebanyakan lembaga yang tertarik untuk merangkul e-learning. Namun demikian, masalah-masalah seperti kurangnya e-konten, infrastruktur yang tidak memadai ditambah dengan masalah dari kesenjangan digital, telah menghasilkan tingkat adopsi yang relatif rendah.
3) Bandwidth Isu dan Koneksivitas
Melibatkan konten memerlukan kombinasi kaya komponen multimedia. Namun, karena keterbatasan bandwidth dan konektivitas, men-download melibatkan konten kepada peserta didik akan lambat. Hal ini menciptakan frustrasi dan kebosanan di kalangan pelajar dan mempengaruhi kemudahan belajar.
4) Komputer dan Digital Divide
Di Malaysia, ada segmen besar penduduk yang komputer buta huruf. Hal ini terutama berlaku di daerah pedesaan. Ini menghalangi pengenalan dan implementasi e-learning.
5) Kurangnya kualitas E-konten
Saat ini, ada kelangkaan tinggi e-learning konten berkualitas di Malaysia. Hal ini disebabkan kurangnya keahlian serta sumber daya keuangan yang besar diperlukan untuk mengembangkan konten. Akibatnya, sebagian besar konten e-learning memiliki interaktivitas yang rendah dan dampak moderat pada peserta didik.
6) Kesulitan dalam Melibatkan Pelajar online
Melibatkan peserta didik secara aktif merupakan salah satu faktor kunci dalam menentukan keberhasilan program e-learning. Pembelajaran online membutuhkan sangat tinggi tingkat motivasi diri yang ditemukan kurang di kalangan peserta didik kami. Peserta didik merasa sulit untuk bermigrasi dari modus pembelajaran tradisional ke e-learning mode.
7) Bahasa Barrier
Ekstensif menggunakan bahasa Inggris dalam e-learning isi juga merupakan salah satu faktor-faktor yang telah menghambat keberhasilan e-learning, terutama di non- Inggris berbicara negara-negara seperti Malaysia. Banyak yang ingin mendaftar di e-belajar program, terhalang dari melakukan hal itu karena mereka tidak percaya diri dengan isi dalam bahasa Inggris.
Sumber : asiapacific-odl2.oum.edu.my/C33/F80.pdf
Dilema dan Tantangan Pembelajaran E-learning
Tulisannya ada yang ga kelihatan
BalasHapusTerimakasih, akan saya perbaiki
HapusArtikel nya bagus sangat menarik
BalasHapusMakasih tteh 😁
HapusBagaimana penerapan teknologi dalam kehidupan sehari hari?
BalasHapushttps://silviapurnamaaulia.blogspot.com/2019/01/berbagai-manfaat-teknologi-dalam.html?m=1
BalasHapusNih buka disini ya 👍
Apa dampak negatif dari penggunaan teknologi?
BalasHapushttps://silviapurnamaaulia.blogspot.com/2019/01/efek-negatif-dan-positif-dari-teknologi.html?m=1
HapusLebih di tingkatin lagi dengan hal hal yg jauh lebih baik lagi .
BalasHapusMunculkan Statistik Pengunjung
BalasHapus